Selamat Datang di Kawasan Penyair Kota Idaman Terima Kasih Kunjungan Anda

Sabtu, 28 Juni 2008

Arsyad Indradi




Lahir di Barabai, 31 Desember 1949.Menyenangi sastra khususnya puisi sejak duduk di SMP dan SMA. Pada tahun 1970 ketika menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin mulai menulis puisi. Puisi-puisinya banyak diterbitkan di berbagai media cetak lokal seperti di Banjarmasin Post, Radar Banjarmasi dan lain – lain dan media cetak nasional seperti Harian Republika Jakarta dan lain – lain.
Sejak di SMA dan di Fakultas Hukum ikut bergabung di Lesbumi Banjarmasin dan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Tahun 1972 keluar dari Lesbumi dan mengaktifkan diri di Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Tahun 1972 bersama Bachtiar Sanderta,Ajamuddin Tifani, Abdullah SP dan lain – lain ( mantan anggota Lesbumi ) mendirikan Teater Banjarmasin khusus menggeluti teater tradisional Mamanda.
Tanggal 5 Juli 1972 Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni RRI Banjarmasin mengadakan diskusi puisi dipimpin oleh Bachtiar Sanderta. Puisi yang didiskusikan Yustan Azidin, Hijaz Yamani, Ajim Ariyadi, Samsul Suhud, Ajamuddin Tifani dan penyair muda Banjarmasin lainnya. Berita diskusi diexpos oleh Lembaran Kebudayaan Perspektif Banjarmasin Post tanggal 17 April 1972.
Sejak tahun 1970 – 1990 tergabung di Perpekindo ( Perintis Peradaban dan Kebudayaan ) Kalimantan Selatan yang berkedudukam di Banjarmasin.
Tanggal 8 - 9 Februari 1972, bersama 15 seniman Banjarmasin mengadakan Aksi Solidaritas turun ke jalan menyuarakan hatinurani karena ketidak pastian hukum di Indonesia, dikenakan pasal 510 KUHP, dijebloskan ke penjara dan dikenakan tahanan luar 3 bulan. Laksus Kopkamtibda Kalimantan Selatan melarang pemeberitaan ini di semua media cetak Banjarmasin. Namun Harian KAMI Jakarta mengexpos berita ini Selasa 15 Februari 1972.
Tahun 1992 menggagas dan mendirikan Dewan Kesenian Banjarbaru bersama seniman – seniman Banjarbaru.
Sejak 1980 an – 1990 an tidak begitu produktif lagi menulis puisi. Aktif menjadi juri lomba baca puisi, juri festival lagu dan menggeluti dunia tari di Balahindang Dance Group Banjarbaru. Pada tahun 2000 mendirikan Galuh Marikit Dance Group Banjarbaru. Tahun 2004 diundang Majelis Bandaraya Melaka Bersejarah pada acara Pesta Gendang Nusantara 7 Malaysia.
Tahun 1996 – 2004 bergabung pada Komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru. Tahun 2004 mendirikan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ( KSSB ), sebagai ketua.
Selalu aktif menghadiri acara diskusi sastra di Banjarbaru maupun di Banjarmasin, acara tadarus puisi yang rutin tiap tahun di adakan di Banjarbaru, Aruh sastra 1 di Kandangan ( 2004 ) dan aruh sastra III di Kotabaru (2006), Aruh Sastra V di Balangan (2008),Aruh Sastra VI di Barito Kuala (2009).

Dalam catatan Data-data Kesenian Daerah Kalimantan Selatan yang diterbitkan Proyek Pengembangan Kesenian Kalimantan Selatan 1975/1976 digolongkan Penyair/Sastrawan dalam priode menjelang/sesudah tahun 70-an. Di dalam Sketsa sastrawan Kalimantan Selatan yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa Balai Bahasa Banjarmasin 2001, oleh Jarkasi dan Tajuddin Nooor Ganie (Tim Penyusun) digolongkan Sastrawan generasi penerus Zaman Orde Baru (1970-1979). Dan termuat dalam dalam Leksikon Susastra Indonesia (LSI) yang disusun oleh Korrie Layun Rampan Penerbit PT Balai Pustaka Jakarta.

Piagam/Penghargaan dari : Wali Kota Banjarbaru, bidang Tari (2004), Raja Malaka,Malaysia,Rampak Gendang Nusantara VII (2004) dan Rampak Gendang Nusantara XII (2009), Wali Kota Banjarbaru, bidang Sastra (2010) dan Gubernur Kalsel,bidang Sastra (2010).
Pengajar mata kuliah Seni Tari/Drama FKIP jurusan PGTK / PGSD Unlam Banjarbaru dan Pengajar Seni Tari STKIP PGRI Banjarmasin
Pengawas Seni Budaya Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar dan TIM Prov/Nasional Pengembang Kurikulum Seni Budaya Sekolah Menengah.

Antologi Puisi bersama antara lain :
Jejak Berlari ( Sanggar Budaya, 1970 ), Edisi Puisi Bandarmasih, 1972, Panorana ( Bandarmasih, 1972), Tamu Malam ( Dewan Kesenian Kalsel, 1992), Jendela Tanah Air ( Taman Budaya /DK Kalsel, 1995), Rumah Hutan Pinus ( Kilang Sastra, 1996), Gerbang Pemukiman ( Kilang Sastra, 1997 ), Bentang Bianglala ( Kilang Sastra, 1998), Cakrawala ( Kilang Sastra, 2000 ), Bahana ( Kilang Sastra, 2001 ), Tiga Kutub Senja ( Kilang Sastra, 2001 ), Bumi Ditelan Kutu ( Kilang Sastra, 2004 ), Baturai Sanja ( Kilang Sastra, 2004 ), Anak Jaman ( KSSB, 2004 ), Dimensi ( KSSB, 2005 ). Seribu Sungai Paris Barantai (2006),Penyair Kontemporer Indonesia dalam Bhs China (2007),Kenduri Puisi Buah Hati Untuk Diah Hadaning (2008),Tarian Cahaya Di Bumi Sanggam (2008),Bertahan Di Bukit Akhir (2008),Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009),Konser Kecemasan (2010) dll.
Awal tahun 2006 mendirikan percetakan KALALATU Press Bjb Kalimantan Selatan dan penerbitan.

Semua puisi – puisi yang belum terdokumentasikan sejak tahun 1970 – 2006, dicetak dan diterbitkan berupa antologi tunggal secara swadana dan disebarluaskan ke seluruh Nusantara.
Antologi Puisi sendiri itu , yaitu :
Nyanyian Seribu Burung ( KSSB, 2006 ),
Kalalatu,puisi bahasa Banjar dan terjemahan bhs Indonesia ( KSSB, 2006 ),
Romansa Setangkai Bunga ( KSSB, 2006 ),
Narasi Musafir Gila ( KSSB, 2006 ).
Anggur Duka ( KSSB,2009) dan
Burinik, puisi bahasa Banjar dan terjemahan bhs Indonesia ( KSSB, 2010 ),
ber-ISBN dari Perpustakaan Nasional RI Jakarta.

Empat Antologi Puisi ini mendapat tanggapan berupa esai, dari :
1. Dr. Sudaryono M.Pd ( Staf Pengajar FKIP Universitas Jambi )“ Narasi Penyair Gila “ Arsyad Indradi, terbit di Cakrawala Seni dan Budaya Radar Banjarmasin, minggu 28 Januari 2007.
2. Dr. Sudaryono M.Pd ( Staf Pengajar FKIP Universitas Jambi )“ Kalalatu “ Balada atau Mantra ? terbit di Cakrawala Seni dan Budaya RadarBanjarmasin, Minggu 25 Februari 2007.
3. Diah Hadaning ( Pengelola Warung Sastra DIHA, Depok Bogor ) “ Setangkai Bunga dalam Seribu Aroma Ekspresi Cinta Lelaki Banjar “, terbit di Cakrawala Seni dan Budaya Radar Banjarmasin, Minggu18 Maret 2007.
4. Yusri Fajar ( Penyair dan Staf Pengajar Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya Malang ) “ Nyanyian Seribu Burung : Dari Relasi Manusia Hingga Narasi Indonesia “, terbit di Cakrawala Seni dan Budaya Radar Banjarmasin, Minggu 29 April 2007.

Antologi Puisi Dimensi yang menghimpun puisi 10 penyair Banjarbaru yang diterbitkan oleh Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, diulas oleh : Diah Hadaning dengan judul Puisi – Puisi Dimensi ! Simpan Ruh Kalimantan terbit di Bletin Watas Banjarbaru edisi 03/2007.

Dari bulan Oktober 2005 sampai akhir tahun 2005 menghimpun 142 Penyair se Nusantara ( hasil Seleksi dari 186 penyair ) dan jumlah puisi 426 puisi, dihimpun dalam Antologi Puisi Penyair Nusantara : “ 142 Penyair Menuju Bulan “, 728 halaman, dicetak oleh Kalaltu Press Bjb Kalimantan Selatan dan diterbitkan oleh Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ( KSSB ) dengan biaya swadana, untuk cetakan pertama.
Pada cetakan kedua akhir tahun 2007, ada perbaikan dan suplemen berupa epilog – epilog, juga dengan swadana.

Tanggal 7 Desember 2006 duet baca puisi dengan Martin Jankowski pada acara Baca dan Diskusi Puisi “Detik – Detik Indonesia di Mata Penyair Jerman “, yang diselemggarakan Unlam Banjarmasin Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP Indonesian Arts and Cultural.
Tanggal 8 – 9 Mei 2006 silaturrahmi, baca dan diskusi puisi di Komunitas ASAS Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Komunitas Sastra Ganesa ITB, Komunitas Sastra Pojok Bandung dan Komunitas Rumah Sastra Bandung.
Tanggal 17 – 19 Juli 2007 baca puisi dan mengikuti seminar sastra internasional di TIM Jakarta.

Hari/Tanggal : Senin, 13 Agustus 2007 pembacaan puisi “ Riverside Poetry “ di Tepi Sungai Martapura depan Kantor Gubernur Kalsel menyambut harijadi yang ke-57 Provensi Kalimantan Selatan dan HUT Proklamasi yang ke-62 yang diselenggarakan oleh Panitia harijadi/HUT Proklamasi dan Dewan Kesenian Kalsel.
Tanggal 26 – 28 Oktober 2007 mengikuti Kongres KCI V di Banjarmasin Kalsel dan membaca cerpen.
Tanggal 19 – 21 Januari 2008 mengikuti Kongres KSI 1 di Kudus Jawa Tengah dan baca puisi.

Bersama Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ( KSSB ) mengadakan Work Shop Sastra dan Pelatihan Membaca Puisi, Menulis Puisi dan Cerpen ke SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Pembacan puisi setiap tahun dalam rangka Tadarus Puisi se Kalsel di Banjarbaru.

Baik Puisi-puisi maupun esai/artikel di muat di situs yang dikelola sendiri :
http://arsyadindradi.net
http://arsyadindradi.blogspot.com
http://penyairnusantara.blogspot.com
http://penyair-kalsel.blogspot.com
http://sastrabanjar.blogspot.com

Puisi-puisi antara lain :

Dundang Duka Seribu Burung

Yulan ya lalalin
Dahan mana aku berhinggap
Awan mana aku bersayap
Matahari mana aku berterang
Sawang jadi bayangbayang
Hutan kehilangan pohon
Pohon kehilangan daun
Duka langit luka menganga
Dayak yang nestapa
Pegunungan meratus hancur
Cerobong asap mesin pembabat amuk
Rampok yang mabuk
Damaklah mataangin
Sebab guntung tanpa puaka
Sungai tanpa muara
Kembang ilalang terbang
Kepak sayap yang lengang

Yulan ya lalalin
Kemana senyap kemana ratap
Kemana kepak kemana retak
Dalam sembilu mesin gergaji
Menyarulah sekuat batubatu yang remuk
Pepohonan yang tumbang
Rumah adat yang terbelah
Dalam perangkap eksploitasi
Dan penambang liar membabi
Terbanglah burung seribu burung
Membusur bianglala
Ruh nenek moyang menyumpah
Kalimantanku punah
Dundang duka seribu burung
Adalah duka dayak terusir
Dari tanah pusaka
Darah getah kayu talikan adalah
Darah dayak tumpah dari balainya

Yulan ya lalalin
Hutan beratus tahun
Dibabat habis
Batubara dikikis
Untuk kekayaan tuantuan
Kami tercampak
Ke lembahlembah pengasingan
Terusir ke padangpadang perburuan
Kabibitak
Anak sima
Halimatak
Bumburaya
O apa bedanya dengan tuantuan
Ladang kehidupan
Kubur kehidupan
Ruh nenek moyang menyumpah
Kalimantanku punah
Nyalakan damar di uluulu
Meratus menangis
Biarkan darah mengalir
Bertandik di duri rukam
Oi ambilkan sumpit buluh kuning
Di gununggunung batuampar
Ikat talimbaran
Di pancurpancur
Bila pecah bulanai
Jangan dipagat akar kariwaya
Pagari ruh dengan tulangtulang
Pagari ruh dengan darahdarah
Tajaki tunggul puaka di riamriam
Ruh nenek moyang menyumpah
Kalimantanku punah

Banjarbaru,2002


Dundang Seribu Penanjak

Gerimis apa gerimis aku terjebak
Dalam jala angin apa angin rimba
Dari tebing tapi aku tak ingin
Dengar siulan senja tak ingin dengar
Kau sebut atas namaku

Dundang, alahai
Sungai berulak di batubatu
Deras mengalir segala rindu
Kutanjak seribu penanjak
Dalam tangkis jarajak
Lanting menyusur arus
Kemana peluh zikir didundangkan
Kutinggalkan seribu suratan
Seribu daunbambu berdesir
Mengeringkan airmata
Mengeringkan `seribu duka
Anak negri dari lereng gunung
Mengarung sungai rindu

Dundang, alahai
Hanya sungai yang memahami
Kalimantan kehilangan ruhnya
Pepohonan dirampok
Isi bumi dirampas
Bencana anak negri
Berakit membasuh segala luka
Gerimis apa gerimis aku terjebak
Dalam jala angin apa angin rimba
Uap fosilbatubara
Tapi aku tak ingin dengar
Kau sebut atas namaku
Dalam gumpalan hitamarang
Doa seribu penanjak
Di alir kita bernafas
Di batubatu kita menyaru
Di ulak kita menari
Di deras kita bersunyi
Melepas sangkal di hati
Tapi aku tak ingin dengar
Kau sebut atas namaku

Dundang, alahai
Melupa segala kenang
Melupa segala bayang
Teja di atas sungai
Rakit di atas sungai
Seribu penanjak
Harapan di atas ratap
Tenggelam janganlah tenggelam
Di dasar airmata
Maka aku tak ingin dengar
Kau sebut atas namaku
Diayun seribu penanjak
Di sungai tak pernah bimbang bercinta
Melupa segala kenang
Melupa segala bayang
Dundang, alahai

Banjarbaru, 2002

*
Dundang, alahai : lagu, nyanyian (meratap)
jarajak : tunggak yang menancap di sungai
Lanting : rakit dari bambu/kayu
menyaru : memanggil/mengundang


Orang Asing


Menyaksikan percintaan seekor baboon
di Suchumi, Kaukasus, orangorang berjubel
tibatiba di antaranya ada yang berseru padaku :
Itu Pierre Brassau si pelukis simpanse
aku telah melihatnya dengan jelas di Goeteborg
tak salah lagi, dia orangnya
Aku malu pada diriku sendiri lalu diamdiam pergi
Dan ketika di tengah riuh tepuktangan Hongaria,
aku membaur di antara kaum zanggi
yang asyik dengan orkestranya
orangorang berjubel
tibatiba di antaranya ada yang berseru padaku :
Itu Pal Ract kelahiran Nograd
Orangorang kagum memandangku
Dengan rasa kecut kutinggalkan warung kopi itu bergegas
Dan ketika di tengah lapangan, dengan rasa ngilu
menyaksikan Adolf Hitler membantai serdadunya sendiri
yang mengunyah musik karena lapar
dan Khomaini seorang sekte itu geram :
Musik tak ubahnya candu, kemudian
mengganyang semua rekaman di Iran
sedang Plato rupanya sejalan pikirannya

Di suatu negeri
orangorang mengerumuni aku
seseorang berkata : Aku tak mengenalnya
dia tak bernapas sedenyut pun
seseorang berkata : Dia hanyut dalam mimpimimpinya
lihat matanya berkacakaca
seseorang berkata : Dia gairah menjilati anganangannya
lihat mulutnya tersenyum
seseorang berkata : Dia sedang berduka
lihat jidatnya penuh luka
seseorang berkata : Dia mabuk rindu
lihat wajahnya ranum
seseorang berkata : Sungguh malang dia korban dekadensi
seseorang berkata : Hai sepertinya dia kaum metafisis
di antara orangorang berkerumun : Apakah dia seorang
penghuni puing benteng Vredeburg tubuhnya terbujur
kaku
menyedihkan sekali
di antara orangorang berkerumun : Dia mati
lalu menyanyikan sebuah requiem
bagai ruh asap
menyelimuti negeriku
yang terkubur jauh dalam diriku

Banjarbaru,2004

1 komentar:

budiboill mengatakan...

umpat begabung pak,ni unda ponsel muka smada hehe